Makalah

QANAAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah Akidah akhlak 
Dosen: Dra. Hj. Eulis Fadilah, JN, M.Pd.I
Disusun Oleh:
Dyta Noermala

 
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
CIAMIS-JAWA BARAT
2013

 



PENDAHULUAN
  Manusia seringkali lupa atas nikmat yang Allah swt berikan, karena kebanyakan manusia melupakan dan selalu merasa kurang atas apa yang ia miliki, sehingga ia selalu diliputi perasaan iri dan dengki atas nikmat yang orang lain dapatkan, dan menjadikan kehidupanya tidak tenang. Hal ini merupakan kecendrungan manusia yang selalu tidak akan merasa puas dengan apa yang ia miliki. Sabda nabi SAW;
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَابْتَغَى الثَّالِثَ وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ   رواه احمد
Artinya ; Seandainya anak Adam mempunyai dua lembah (terisi) dari emas, pasti ia mengingkinkan lembah ketiga; tidak ada yang mengisi perut anak Adam kecuali tanah, serta Allah meneriman taubatnya orang yang mau kembali kepada-Nya. (HR. Ahmad)
Padahal jika kita mau mensyukuri apa yang ada pada diri kita, terlebih lagi memahami bahwa semua yang ada didunia ini hanyalah titipan dan cobaan Allah semata niscaya menjadikan kita lebih berfikir bijak dan tenang dalam menghadapi gejolak kehidupan. Sabda Nabi saw ;
وعن عبد الله ابن عمرو رضى الله عنهما : ان رسول الله صلعم. قال: قد افلح من اسلم ورزق كفافا وقنعه الله بما اتاه. رواه مسلم
Artinya; Rasulullah saw bersabda; sungguh untung orang yang masuk islam dan rizkinya cukup dan merasa cukup dengan apa-apa yang pemberian Allah. (HR Muslim)
Sebagai manusia kita memang mempunyai banyak kebutuhan, baik kebutuhan materil maupun materil, makalah ini kami ingin mencoba mengungkapkan bagaimana seharusnya kita sebagai manusia menyikapi kebutuhan kita, terlebih dalam menyikapi kebutuhan harta.
PEMBAHASAN
A. Pengertian Qana’ah
Menurut bahasa qanaah berarti merasa cukup, sedangkan menurut istilah qanaah berati merasa cukup dan menerima atas apa yang telah diberikan Allah swt kepada kita, sehingga mampu menjauhkan diri dari sikap tamak, dan sikap tidak puas yang berlebihan.
Qanaah bukan berarti diam berpangku tangan dan bermalas-malasan tidak mau meningkatkan kesejahteraan hidup, tapi sesungguhnya orang yang qanaah adalah orang yang sangat kuat dan bersahaja. Dia giat berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan yang dicita-citakan. Namun apabila menemui kegagalan dia tidak pernah berputus asa dan kecewa, bahkan ia selalu sabar dan husnuzhan dengan keputusan Allah SWT, karena dia punya keyakinan bahwa dibalik semua peristiwa dalam hidup pasti ada hikmahnya.
Sabda Nabi Muhammad SAW,  Artinya :
Dari Fadlolah bin Ubaid bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda : ”Sungguh berbahagialah orang yang mendapatkan hidayah Islam dan penghidupannya sederhana serta mau menerima apa adanya. (HR. Tirmidzi).” 
Cinta pada dunia dan ingin hidup dalam kemewahan,  adalah salah satu penyebab yang bisa mengakibatkan hidup menjadi tidak tentram. Orang-orang yang cinta dunia akan selalu terdorong untuk memburu segala keinginannya meski harus menggunakan cara yang licik, curang, dengan  berbohong, korupsi, dan sebagainya. Semua itu karena orang yang cinta dunia  tidak pernah menyadari, sesungguhnya harta hanyalah ujian.  Hingga  ia  tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah dimilikinya dan masih selalu ingin menambahnya lagi, ini adalah sikap yang sangat jauh dari rasa syukur kepada Allah SWT. Harus kita sadari bahwa mencari materi di dunia itu ibarat orang meminum air laut, semakin diminum maka semakin terasa haus. Itulah mengapa sikap Qana’ah menjadi penting.
Nabi Muhammad SAW  telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap terhadap harta, yaitu menyikapi harta dengan sikap qana’ah (kepuasan dan kerelaan). Sikap qana’ah ini harus dimiliki oleh orang yang kaya maupun orang yang miskin adapun wujud qana’ah yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak tamak terhadap apa yang dimiliki manusia, tidak iri melihat apa yang ada di tangan orang lain dan tidak rakus mencari harta benda dengan menghalalkan segala cara, sehingga dengan semua itu akan membuat orang merasa puas dan tidak mencari melebihi apa yang dibutuhkan, dan mencegah orang dari menurutkan hawa nafsu yang tidak pernah puas.
Dari Hakim bin Hizam r.a. berkata: Bahwa Nabi SAW. bersabda: Tangan di atas adalah lebih baik dari tangan di bawah. Hendaklah kamu muliakan dengan orang-orang yang di bawah tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah ialah dari harta yang lebih (yang kamu atau orang di bawah tanggunganmu tidak memerlukannya). Barangsiapa yang menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta maka Allah SWT akan memelihara kehormatannya. Barangsiapa yang tidak bergantung harap kepada manusia, maka Allah SWT akan mencukupkan keperluannya. (Bukhari dan Muslim).
Ketahuilah sesungguhnya di dalam qana’ah, itu ada kemuliaan dan ketentraman hati karena sudah merasa tercukupi, ada kesabaran serta keridhaan terhadap pembagian rezeki yang telah diatur-Nya. Dan semua itu akan mendatangkan pahala di akhirat. Dan sesungguhnya dalam kerakusan dan ketamakan itu ada kehinaan dan kesusahan karena dia tidak pernah merasa puas dan cukup terhadap pemberian Allah.
Dalam kehidupan kita di dunia, sebaiknya kita melihat orang yang di bawah kita, dan dalam masalah kehidupan akhirat kita melihat orang yang di atas kita.  Hal ini sebagaimana telah ditegaskan Rasulullah SAW dalam hadits sebagai berikut: “Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah melihat orang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat Allah SWT yang dilimpahkan kepada kalian.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy). Kekayaan bukanlah segalanya. kekayaan harta bukanlah kekayaan yang hakiki. Kekayaan yang hakiki adalah saat jiwa (hati) kita penuh dengan hidayah Allah SWT.
Qana’ah itu bersangkut paut dengan sikap hati atau sikap mental. Oleh karena itu untuk menumbuhkan sifat Qana’ah diperlukan latihan dan kesabaran. Pada tingkat pemulaan mungkin merupakan sesuatu yang memberatkan hati, namun jika sifat Qana’ah sudah membudaya dalam diri dan telah menjadi bagian dalam hidupnya maka kebahagiaan didunia akan dapat dinikmatinya, dan kebahagiaan di akhirat kelak akan dicapainya. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam salah satu hadisnya : “Qana’ah itu adalah seperti simpanan yang tak akan habis". (H.R.Thabrani). Demikianlah betapa pentingnya sifat Qana’ah dalam hidup, yang apabila dimiliki oleh setiap orang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan mendorong terwujudnya masyarakat yang penuh dengan ketentraman, tidak cepat putus asa, dan bebas dari keserakahan, seta selalu berfikir positif dan maju. Dznnun Al-Mashri mengatakan : “Barangsiapa bersikap Qana’ah, maka ia bisa merasa nyaman ditengah-tengah manusia sezamannya dan disegani oleh mata rekan-rekannya.”
B. Bersikap Qana’ah dalam kehidupan sehari-hari
       Qana’ah seharusnya merupakan sifat dasar setiap muslim, karena sifat tersebut dapat menjadi pengendali agar tidak surut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan. Qana’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dikatakan stabilisator, karena seorang muslim yang mempunyai sifat Qana’ah akan selalu berlapang dada, berhati tentram, merasa kaya dan berkecukupan, bebas dari keserakahan, karena pada hakekatnya kekayaan dan kemiskinan terletak pada hati bukan pada harta yang dimilikinya. Bila kita perhatikan banyak orang yang lahirnya nampak berkecukupan bahkan mewah, namun hatinya penuh diliputi keserakahan dan kesengsaraan, sebaliknya banyak orang yang sepintas lalu seperti kekurangan namun hidupnya tenang, penuh kegembiraan, bahkan masih sanggup mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan sosial.
       Adapun contoh bersikap Qana’ah dalam kehidupan, diantaranya :
a. Giat bekerja dan berusaha untuk mencapai hasil terbaik.
b. Jika hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan, tidak mudah
    kecewa dan berputus asa.
c. Selalu bersyukur atas apa yang menjadi hasil usahanya, dan tidak pernah
    merasa iri atas keberhasilan yang diperoleh orang lain.
d. Hidupnya sederhana dan menyesuaikan diri dengan keadaan, tidak rakus dan
    tidak tamak.
e. Selalu yakin bahwa apa yang didapatnya dan yang ada pada dirinya
    merupakan anugerah dari Allah swt.
C. Hikmah bersikap Qana’ah
Perilaku qanaah itu telah bisa kita laksanakan pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, maka kita akan mendapatkan hikmah yang besar, diantaranya :
a. Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
b. Mendorong setiap muslim untuk berlapang dada, berhati tentram, dan selalu
    merasa berkecukupan.
c. Memupuk jiwa sabar dan tawakal.
d. Terhindar dari sikap tamak, serakah dan dengki.
e. Membiasakan diri untuk hidup sederhana sesuai ajaran Islam.
PENUTUP
A. Simpulan
       Qana’ah yaitu sikap merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah swt kepada kita dan mau nerima kenyataan dengan sikap ridla. Maka, kita sebagai makhluk ciptaan Allah swt, harus memiliki sikap Qana’ah karena dengan berakhlak Qana’ah kita akan selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan dan  menjauhi dari sifat tamak atau berlebihan.
Qanaah itu mengandung lima perkara:
1. Menerima dengan rela akan apa yang ada.
2. Memohon kepada Allah swt tambahan yang pantas dan dibarengi dengan
    berusaha.
3. Menerima dengan sabar akan ketentuan Allah swt.
4. Bertawakal kepada Allah swt.
5. Tidak tertarik oleh tipu daya dunia.
B. Saran
Tidak ada gading yang tak retak, begitupun manusia tidak lupt dari hilaf dan dosa untuk itu demi terciptanya makalah yang berkualitas dikemudian hari maka penulis menerima kritik yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Hajjaj, Fauqi Muhammad. Tasawuf Al-Islam wa Akhlak. Jakarta. AMZAH. 2011
Mustaqim, Abdul. Akhlak Tasawuf. Yogyakarta. Kreasi Wacana. 2007
Imam Ghazali, Mukhtashar Ihya Ulumuddin, diterjemahkan oleh Zaid Husein al  
Hamid. Ringkasan Ihya Ulumuddin. Jakarta ; Pustaka Amani. 1995.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar